spot_imgspot_img

Ukhuwah Islamiyah di Era Media Sosial: Antara Tantangan dan Harapan

BerandaEsaiUkhuwah Islamiyah di Era Media Sosial: Antara Tantangan dan Harapan

“Sesungguhnya orang-orang beriman itu bersaudara, maka damaikanlah (perbaikilah hubungan) antara kedua saudaramu itu…” (QS. Al Hujurat : 10)

Di era media sosial, komunikasi dan interaksi antar manusia berlangsung lebih cepat dan luas. Informasi tersebar di antara kita. Ada yang bernilai positif dan ada pula yang negatif. Misalnya, dari hal negatif seperti, Baper dengan kehidupan orang lain yang kita lihat selalu posting jalan-jalan, makan enak, atau beli barang baru. Contoh lain kita juga mudah tersulut emosi saat melihat komentar pedas atau postingan provokatif. Tak hanya itu, kita juga menghabiskan waktu sia-sia. Niatnya cek notif bentar, eeh… tahu-tahu sudah scroll lebih dari 1 jam. Akibatnya, pekerjaan tidak terselesaikan dan waktu istirahat malah hilang. Survei di lapangan mengungkap, sebanyak 67,6% orang Indonesia mengakses internet untuk media sosial (Kementerian Kominfo, 20 November 2025).

Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI), Ukhuwah berarti persaudaraan. Islamiyah berarti bersifat keislaman. Ukhuwah Islamiyah adalah persaudaraan yang berdasarkan nilai-nilai keislaman. Buya Hamka menjelaskan bahwa inti dari ukhuwah terletak pada kesediaan untuk memahami, saling melengkapi dan memaafkan kesalahan sesama muslim. Sementara itu, Imam Al Ghozali menyebutkan ukhuwah islamiyah sebagai ikatan hati yang melahirkan kasih sayang, pengorbanan dan empati. Oleh karena itu, ukhuwah tidak hanya sekadar hubungan antar sesama, tapi lebih bermakna refleksi dari keimanan serta ketakwaan.

Kenyataan yang kita hadapi saat ini, wajar apabila terkadang kita gelisah. Bagaimana mungkin ukhuwah dipertahankan bila perdebatan kecil di komentar sosmed mampu mengubah menjadi konflik besar hanya dalam hitungan detik? Bagaimana mungkin ukhuwah kita tetap kokoh saat di ruang digital lebih sering menimbulkan salah paham dibandingkan saling memahami? Nah, pertanyaan-pertanyaan yang penulis utarakan ini mengajak pembaca merenung. Apakah kita sudah mengamalkan makna Ukhuwah Islamiyah yang telah diajarkan Rasulallah atau malah “tergelincir” dalam arus digital yang tidak terarah?

Bagi penulis, berikut adalah solusi agar Ukhuwah Islamiyah kita tetap terjaga di tengah gempuran informasi yang tersebar di media sosial. Pertama, bijak bermedia digital. Artinya, menelaah dulu informasi yang tersebar sebelum membaginya, menghindari ujaran kebencian dan tetap sopan santun dalam penulisan kata. Kedua, menguatkan literasi digital islami. Artinya, memahami makna konten agama secara benar yang bersumber dari ulama terpercaya, sehingga tidak mudah terprovokasi oleh potongan-potongan video yang beredar di sosial media kita. Ketiga, membangun budaya tabayun/diskusi. Maknya, tidak mudah emosi saat melihat perbedaan dan memilih untuk klarifikasi serta saling memahami agar tidak salah paham sehingga Ukhuwah Islamiyah tetap terjaga.

Banyak hal baik dan pahala yang bisa kita dapatkan dari media sosial. Ukhuwah Islamiyah juga bisa mempererat dengan media digital. Oleh karena itu, sebagai Muslim dan Muslimah yang baik harus terus belajar dengan rajin agar kita bisa memfilter hal yang positif lalu menyebarkan kebaikan. Menjadi generasi yang melek teknologi, tetapi juga beradab digital. Jadikan keberadaan kita selalu dinanti untuk menjadi pemersatu ummat agar kita benar-benar mampu menghidupkan kembali nilai-nilai Ukhuwah Islamiyah di era media sosial ini.

Esais: Verdika N.,S.Ag.,M.Pd.

adminsafindahttps://safindaspektrum.com
Admin Safinda Spektrum. Menginspirasi - Mengedukasi
spot_imgspot_img

Related Articles

spot_img

Get in Touch

0FansSuka
0PengikutMengikuti
0PelangganBerlangganan

Latest Posts