Sayatan Luka: Eka Riya Agustin
Waktu demi waktu sang surya pun rasanya tepat di atas kepala. “Panas banget..” keluh Ara, Reyla yang mendengarnya pun akhirnya menanggapinya. “Masih panas dunia, belum panas diakhirat, dosamu tuh banyak, Ra..” Guraunya pada Ara. “Mana ada sih? yang ada kamu tuh yang banyak La,” ucap Ara menanggapi gurauan Reyla. Reyla yang mendengarnya pun hanya tersenyum sambil melangkahkan kakinya menuju suatu tempat untuk membeli air dan minum.
Sesampainya di tempat yang dituju lagi-lagi Reyla melihat sosok yang familiar berjalan ke arahnya. “Rey.. nih,” katanya sambil memberikan sebotol air mineral pada Reyla. “Inget kata Bunda, diminum,” sambungnya. “Hah? ya.. di minum kok nanti. Makasih buat airnya Sa…” Ya, Aksaralah sosok yang memberinya air tersebut, sosok yang selalu familiar karena memang benar hubungan mereka cukup dekat, namun tidak ada seorang pun yang tahu hubungan antara mereka selain diri mereka sendiri.
Setelah kepergian Aksara, Reyla pun pergi ke tempat duduk yang selalu menjadi tempat favorit Reyla dan Ara. Sesampainya di tempat tersebut Ara yang melihatnya pun berkata, “Lama banget sih La?” tanyanya pada Reyla. “Hehe, tadi ada kendala dikit,” jawab Reyla meminta maaf karena sungkan. “Hmmm, ya udah ayo makan,” ajak Ara pada Reyla. “Ayo gasss!” Mereka pun memakan makanan yang telah dipersiapkan oleh Ara sebelum Reyla sampai tadi. (bersambung)
