Surabaya – Fenomena sekolah yang kekurangan siswa baru atau sepi peminat di tahun ajaran baru 2026-2027 ini makin meluas di berbagai daerah di Indonesia. Banyak sekolah tidak mencapai kuota ideal jumlah siswa baru. Tak terkecuali di kota Pahlawan, Surabaya, juga mengalami hal yang serupa.
Tanpa menyebut nama sekolah, beberapa sekolah swasta di Surabaya (TK, SD/MI, SMP/MTs, SMA/MA, SMK) rata-rata kekurangan siswa hampir satu atau dua kelas. Akibatnya, ketika kegiatan proses pembelajaran di tahun ajaran baru sudah dimulai atau MPLS sudah digelar, beberapa sekolah swasta masih banyak membuka/menerima murid baru (SPMB). Tak hanya itu, yang juga membuat miris, ada SMA swasta di Surabaya yang saat graduation kelas XII meluluskan siswanya sebanyak dua ratus siswa lebih, kini hanya mampu mendapatkan seratusan siswa saja di tahun ajaran baru ini. Tentu saja ini akan memicu kekhawatiran mengenai keberlangsungan operasional lembaga pendidikan tersebut ke depannya.
Data dari media televisi CNN Indonesia dan Sindo News tentang tayangan berita “Fenomena Sekolah Sepi Peminat” (16/17/07/2026) dan tayangan berita dari Kompas TV “Krisis Siswa Baru, dan Ruang Kelas yang Semakin Sunyi” (17/07/2026) serta berita dari JTv “Miris SD Tanpa Murid Baru semakin menegaskan itu. Lalu, sekolah bisa apa dan harus bagaimana? Strategi marketing sekolah apa yang harus digunakan agar jumlah siswa tidak selalu turun setiap tahunnya?

Menurut perspektif penulis dan berdasar kajian dari strategi school marketing yang penulis amati pasca memberikan pelatihan di 150 lebih sekolah bahwa banyak sekolah swasta masih menggunakan brand inersia dan brand myopia yang ujungnya pada brand amnesia ketika menjalankan kegiatan SPMB. Sekolah masih menggunakan strategi marketing pola lama, tidak kreatif, dan tidak inovatif. Antara target market dan target audiens tidak dipetakan dengan jelas. Riset demografi, geografi, psikografi dan consumer insight tidak pernah ada dan tidak pernah muncul di meja rapat guru saat kegiatan SPMB.

Penetrasi advertising antara makro site dan mikro site pun tidak ada objektifnya dan tidak pernah diukur. Tidak pernah dibentuk yang namanya afiliasi marketing seperti key opinion leaders dan key opinion customers serta search marketing (SEM dan SEO). Layanan jasa ke pelanggan pun untuk face to face communication pada ortu, siswa, masyarakat/publik belum menggunakan marketing immersif. Tidak ada pendekatan marketing one to one dan emotional values. Orientasi brand promise dan magnet branding masih berpola pada customer service bukan customer experience. Sekolah swasta juga tidak mampu membedakan tagline sekolah yang bermuara pada visi misi dan motto, atau slogan/jargon yang berfokus pada brand campaign. Email marketing untuk sarana advertising online hasil dari creative writing siswa, guru dan alumni juga zero data.
Tak hanya itu, belum ada upaya kreatif pula dari sekolah-sekolah swasta untuk meningkatkan kualitas guru dengan menggelar semacam pelatihan personal branding guru profesional untuk meningkatkan kualitas sekolah yang berdampak pada peningkatan jumlah murid baru. Padahal bagi penulis, ini ada kajian ilmunya sebagai langkah nyata strategi marketing sekolah yang jitu serta menjamin pada peningkatan jumlah murid baru setiap tahunnya.
Rata-rata sekolah masih berkutat pada pelatihan guru soal kurikulum, deep learning serta pembelajaran berbasis AI. Akibatnya, bisa ditebak ketika SPMB sudah di ujung cerita, sekolah baru menyadari dan merasa “kelimpungan” karena ternyata jumlah siswa di sekolahnya sepi peminat. Padahal dalam tataran kajian school marketing yang berstandar harusnya values creation itu harus sebanding dengan values capture.
Nah, bila pembaca tertarik dan ingin mendapatkan penjelasan lebih rinci dan mendalam tentang konsep, metode, dan perspektif baru tentang penjelasan artikel di atas, maka kami memiliki program pelatihan strategi marketing sekolah berstandar master kelas atau S-2 yang kami bingkai dalam Integrated Marketing Communication (IMC) bertajuk Workshop Eksklusif SPMB: ”Sukses SPMB untuk Peningkatan Jumlah Murid Baru Tahun Ajaran 2027-2028”.
Kami akan merasa terhormat jika Bapak/Ibu/Saudara senantiasa percaya bahwa peningkatan SPMB setiap tahunnya adalah modal utama dalam memastikan visi-misi pendidikan di sekolah Anda. Silakan hubungi kami di nomor WA – 0822-2835-5967. (dya)
(Penulis adalah Lulusan Master Media dan Marketing Komunikasi PTN Ternama di Surabaya, Trainer Spesialis SPMB Berpengalaman lebih dari 20 tahun)
Ilustrasi foto/gambar: cnn indonesia, sindo news, kompas Tv, dab JTv Jember
